Blog

Blog

Belajar Berjalan Lagi

Tahun 2018 merupakan waktu terberat dalam hidup saya, banyak kesedihan, kemarahan dan kekecewaan yang saya pendam sendiri.  Permasalahan Keluarga, akademis hingga pertemanan membuat saya depresi, dan ketergantungan obat penenang. Beberapa kali juga terlintas niatan untuk menyudahi kehidupan tapi untunglah saya tak sampai berhasil melakukannya.  Menyendiri dari keriuhan hidup adalah jalan yang saya pilih di paruh 5 bulan terakhir tahun 2018. Saya kehilangan tujuan hidup dan bahkan kehilangan diri saya sendiri dalam prosesnya. Tapi di akhir tahun, saya mendapatkan setitik semangat dalam kemuraman hidup, saya ingin kembali melanjutkan hidup saya dengan lebih bermakna.

 

Awal Januari saya terbangun oleh telepon dari seorang sahabat , ia menawarkan saya untuk bergabung dalam program Humanity Youth  yang diadakan oleh AJAR (Asia Justice and rights). Setelah mendapatkan penjelasan singkat via telepon saya diundang untuk datang langsung ke kantor AJAR. Itulah kali pertama saya bertemu orang banyak setelah setengah tahun lamanya saya menyendiri.

 

Dalam pertemuan tersebut dijelaskan  nantinya saya akan mendampingi para Stolen Children di Jabodetabek. Saat itu adalah kali pertama saya mendengar tentang  Stolen Children.  

 

Stolen Children adalah sebutan yang digunakan untuk anak-anak Timor Leste yang diambil secara paksa ke Indonesia tanpa persetujuan dari keluarga mereka pada periode pendudukan Indonesia di Timor Leste  tahun 1975-1999. 

 

Saya terdiam sesaat setelah mendapatkan penjelasan tentang Stolen Children , hati saya perih Dan ngilu. Pikiran dan nurani saya menanyakan beribu pertanyaan saat itu, bagaimana bisa seseorang merasa berhak untuk mengambil seorang anak dan memisahkan mereka dari keluarganya?. Dan bagaimana pula bisa seorang anak bertahan hidup di tengah kecamuk perang dan jarak yang memisahkan antara mereka dengan keluarga di kampung halaman, entahlah.  Dimana pula kemanusiaan saat itu, di negeri  yang konon menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan segenap pertanyaan dan ngilu hati yang menyingkapi , saya setuju untuk bergabung dalam program Humanity Youth.

 

Selang dua minggu kemudian saya dan kawan-kawan fasilitator terbang menuju Bali untuk pelatihan.  Sungguh ini adalah kali pertama saya berinteraksi dengan banyak orang baru setelah selama 2018 saya memilih menyendiri. Saya sempat gugup, serangan panik sempat menyergap dan keinginan untuk  menyendiri dalam kemuraman juga kembali. Tapi saat itu juga saya memilih untuk menang dalam keriuhan hidup, saya memutuskan untuk berpisah dan meninggalkan kemuraman hidup, sahabat saya sepanjang tahun 2018.

 

I’m  telling these tears, go and fall away, fall away may the last one burn into flames –Beyoncé

 

Ditemani desiran angin pantai berawa saya belajar banyak hal selama pelatihan, hal-hal yang biasanya saya cerna dari berita atau laporan tentang kasus pelanggaran HAM kini perlahan saya pelajari. Perlahan dalam proses dua minggu itu saya belajar untuk lebih banyak mendengar tanpa menghakimi. Belajar untuk memahami bahwa bercerita dan air mata adalah proses untuk bisa terlepas dari belenggu kemuraman hidup. Dan diantara tangis yang sempat terselip diantara cerita para kawan baru , saya merasa perlahan terlepas dari belenggu kesedihan dan kesendirian saya setahun kebelakang.

 

Diantara kepulan asap-asap rokok di pojok merokok kampung damai tempat kami tinggal di Bali, terselip asa untuk bisa berbahagia seperti dahulu kala. Berbahagia bersama kawan-kawan yang saya tinggalkan dalam sunyi dan sedih setahun yang lalu. Perlahan saya tersundut api kehidupan. Jauh dalam pikiran terdengar sayup-sayup penggalan lirik lagu favorit saya “one day you rise,one day you fall Be still my soul” -Neonomora

 

Sekembalinya dari Bali saya dihadapkan dengan kenyataan dan juga harapan, saya harus melanjutkan hidup. Tugas pertama saya sebagai  fasilitator Humanity Youth adalah mendampingi para penyintas Stolen Children yang selama ini didampingi oleh IKOHI (ikatan keluarga orang hilang Indonesia). 

 

Kali pertama perjumpaan saya dengan penyintas membuat saya gugup , begitu banyak pertanyaan di benak saya, akankah beliau menerima kehadiran saya dan teman-teman saya? Apakah beliau mau dan sanggup bercerita tentang masa lalu yang menyakitkan tersebut karena berkaca dari diri sendiri, saya tampaknya tak sanggup bercerita tentang kemuraman hidup saya pada orang yang baru dikenal.

 

Hari itu ternyata dipenuhi riuh tawa dan resep mie ayam. Candaan-candaan yang beliau lontarkan saya anggap salam hangat perkenalan, biarpun beliau belum mau bercerita sekelumit kisah hidupnya, saya maklum. Bercerita tentang kisah kehidupan apalagi yang muram bukanlah hal mudah, semua itu butuh proses.

 

Suatu waktu di bulan Maret, saya berkelana  ke selatan Jakarta untuk menemui salah seorang penyintas. Dia adalah salah seorang penyintas dengan daya juang yang luar biasa, diambil secara paksa saat masih kecil oleh tentara,kemudian diperbantukan sebagai TBO (tenaga bantuan oprasional) sampai akhirnya ia tertembak peluru panas . Beliau sempat dibawa ke Jakarta untuk pengobatan,kemudian kembali lagi ke Timor Leste, tertembak lagi dan dibawa ke Jakarta kembali. Hingga pada kedua kalinya ia dibawa  ke Jakarta ia ditelantarkan, tidak diajak pulang kembali ke Timor Leste. Tapi ia tidak patah semangat, sempat mengalami kemuraman dan kekejian hidup ia tetap bersemangat untuk bertahan dan melanjutkan kehidupan di tanah asing jauh dari Keluarganya,sendirian. Walaupum dalam perjalanannya beliau bercerita sempat mengalami kembali kemuraman hidup dan kegagalan.

 

Pertemuan itu begitu bermakna dan membekas bagi  saya karena diantara kesederhanaan yang tersaji terdapat keikhlasan untuk berbagi. Dan diantara  luka masa lalu yang masih membekas ,terhampar maaf seluas  lautan yang membentang antara Indonesia dan Timor Leste,begitu pula ada doa yang tak putus dipanjatkan ke keharibaannya. Sungguh saya banyak belajar hari itu.

 

Sepulangnya dari kunjungan tersebut saya terjebak hujan deras dari stasiun menuju rumah, tapi saya tetap berjalan menuju rumah tanpa payung tanpa apapun yang melindungi saya dari hujan, dan diantara air hujan yang mengguyur sudirman malam itu terseliplah air mata dan ngilu hati. Biarlah saya merasakan semua sedih,peluh dan getir hidup bersatu dengan air hujan, saya merasa hidup.

 

“Midnight, our sons and daughters cut down, taken from us,

Hear their heartbeat

We hear their heartbeat

In the wind, we hear their laughter

In the rain, we see their tears

Hear their heartbeat

We hear their heartbeat”

– U2

 

Suatu malam di pedalaman Jawa Barat saya menangis ditemani suara bising motor trail yang memecah keheningan malam, di atas kepala saya terhampar langit malam yang begitu indah.  Malam itu saya pulang dari rumah salah seorang penyintas,  kisah hidupnya begitu memilukan, kemalangan demi kemalangan  harus ia hadapi, mulai dari dibawa paksa ke Indonesia, diperlakukan kasar oleh orang tua angkatnya hingga ia trauma sampai sekarang, dan kini pun ia masih berada dalam lingkaran kekerasan. Tapi kekejian hidup yang bertubi-tubi tidak membuat ia menyerah. Pada saya ia bercerita dia akan terus berjuang demi kebahagian hidupnya dan juga anaknya.

 

Saya pulang membawa getir kekecewaan dan juga kesedihan atas ketidakadilan dan kemalangan hidupnya. Pada bahwasannya alam menyajikan begitu banyak keindahan dan kehangatan, tapi dalam kenyataan hidup manusia, keindahan dan kehangatan itu kadang hanyalah sebuah bayang-bayang penghias dalam keseharian yang dingin,keji dan tidak berprikemanusiaan, betapa muramnya kenyataan hidup ini.

 

Pertemuan demi pertemuan, perjalanan demi perjalanan saya dan kawan-kawan lakukan dalam proses mendampingi dan mengumpulkan cerita para penyintas. Ratusan kilometer terbentang dari satu tempat ke tempat lainya tapi pada ujungnya kami dipertemukan  dalam satu titik temu, titik kebenaran dan juga kemanusiaan. Dan terlentang juga jarak perbedaan usia antara saya,kawan saya dengan penyintas, tapi kami sekali lagi didekatkan oleh semangat mencari kebenaran dan juga semangat kemanusiaan.

 

Proses demi proses saya lalui dan saya pelajari. Dan selama itu pula saya belajar banyak dari para penyintas, bahwa hidup pasti akan menempatkan manusia pada titik terendah kehidupan dan bahkan dalam kemuraman hidup  yang gelap, tapi janganlah kita manusia menyerah dan berdiam dalam kegelapan. 

 

Berjalanlah perlahan dan carilah titik cahaya kehidupan, berjalanlah sampai kamu menemukan bahagia biarpun itu tertatih-tatih atau bahkan tersandung dan terjatuh lagi. Biarlah air mata menemani perjalanan hidup selama ini. Karena setelah hari mendung pastilah datang hari yang cerah.

 

Teruntuk labarik lakon, eyang-eyang penyintas 65 dan penyintas lainnya yang selama ini kisahnya saya dengar langsung atau diceritakan kawan. Saya ucapkan beribu terima kasih karena dari kalianlah saya mendapat sumber kekuatan untuk bangkit dan kembali belajar berjalan, menapaki riuh kehidupan yang sempat saya tinggalkan. Semogalah banyak kawan-kawan  yang lain bisa belajar dari perjalanan hidup kalian yang mengagumkan.

 

Dan untuk sahabat saya terkasih, Raisa Widiastari, terimakasih telah menyediakan punggung untuk saya bersandar dan menangis, terimakasih telah mengulurkan tangan untuk membantu saya kembali dalam riuh kehidupan dan terang kemanusiaan.

 

Put down, your sword, take less and give more

Love your sister, brother, like before

Make love, and not war.

-Emeli Sandé

A LUTA CONTINUA